
“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)
Ketika kita menggerakan mulut kita memulai dengan Basmallah, berzikir asma allah dan mengucapkan ijab qabul pernikahan, maka didetik itu pula bertambah kewajiban kita sebagai seorang insan. kewajiban yang tidak sederhana, meski juga tidak berat terasa seperti akhir dunia.
Seperti sebuah kewajiban apapun, kewajiban adalah sesuatu yang harus kita tunaikan, meski pelaksanaanya ada yang baik dan ada yang masih tertatih-tatih. Sebagai suami maka kita menjadikan diri kita naik satu tingkat mengambils ebuah tanggung jawab besar bagaimana mengelola keluarga.
Kewajiban ini adalah seni dalam mengelola potensi-potensi yang ada di dalam keluarga, potensi istri, potensi anak, bahkan potensi khadimah di dalam keluarga. Akan tetapi, semua potensi itu harus dikelola dan dilengkapi secara sempurna dengan sentuhan akhir oleh sorang suami. Diibaratkan dengan ilmu pertamanan, sebuah keluarga laksana sepetak ladang hijau yang alami, lalu secara bersama dengan orang-orang dalam keluarga mengelola ladang hijau itu, menyiapkan lahannya, membuat saluran irigasi, menyemai benih, menanam benih dan sampai akhirnya menuai hasil, dst. Tapi bedanya orang-orang yang mengelola itu mempunyai beban yang berbeda. Istri misalnya mungkin ketika mengelola lahan ladang, dia bertugas memasak logistik dan membantu menanam benih, sedangkan suami yang mengatur saluran irigasi dan membajak, anak-anak juga ikut meramaikan dan bertugas dengan bermain serta bercanda, menjadi penghibur lelah orang tuanya. Mungkin anak yang besar bisa membantu seperti orang tuanya (mengusir hewan penggangu, atau sekedar membawakan makanan, karena potensi besar mereka untuk belajar). Kesemuanya bergerak bersama mengeluarkan potensi agar ladang itu sukses dan menghasilkan ...meski saya sebagai suami meyakini, bahwa suami punya porsi yang lebih besar dan tanggung jawab yang berlipat. Jika suami lebih rendah tanggung jawabnya, perlu ditanyakan kontrobusi 'kejantannya'.
Jikalau kita semua meyakini bahwa suami begitu pula istri punya tanggung jawab yang besar, niscaya biduk rumah tangga menjadi sebuah dinamisasi hidup yang mencerahkan dan menjadikan hidup bertambah hidup, bukan menjadi neraka dunia, dimana perseleisihn dan perbedaan selalu berakhir dengan 'peperangan'.